Aku Akhirnya Berhenti Mengejar Versi Diriku yang Sempurna

 

Aku Akhirnya Berhenti Mengejar Versi Diriku yang Sempurna

Aku pernah hidup dengan satu tujuan yang terasa tidak pernah selesai:

Menjadi versi diriku yang sempurna.

Versi yang tidak pernah salah.
Versi yang selalu kuat.
Versi yang tidak overthinking.
Versi yang selalu tahu harus bagaimana.

Dan aku mengejarnya setiap hari, tanpa sadar aku sedang menjauh dari diriku sendiri.

Kalau aku lelah, aku paksa tetap jalan.
Kalau aku sedih, aku paksa cepat pulih.
Kalau aku gagal, aku paksa segera memperbaiki semuanya.

Seolah menjadi manusia biasa itu tidak cukup.

Seolah aku harus selalu “lebih” untuk pantas merasa baik-baik saja.

Sampai akhirnya aku capek.

Capek mengejar sesuatu yang tidak pernah punya garis akhir.
Capek membandingkan diriku dengan versi ideal yang bahkan tidak realistis.
Capek merasa tidak pernah cukup meskipun sudah berusaha.

Dan di titik paling sunyi itu, aku mulai sadar sesuatu:

Mungkin aku tidak perlu menjadi sempurna untuk bisa hidup dengan tenang.

Mungkin aku hanya perlu menjadi diriku sendiri… yang mau menerima prosesnya.

Aku mulai berhenti menghukum diriku setiap kali aku tidak sesuai harapan.

Aku mulai belajar:

  • gagal bukan berarti aku rusak
  • lelah bukan berarti aku lemah
  • lambat bukan berarti aku tertinggal

Aku mulai memberi ruang untuk diriku menjadi manusia.

Bukan mesin.
Bukan versi ideal.
Tapi manusia yang sedang belajar hidup.

Dan pelan-pelan, aku mulai merasa lebih ringan.

Bukan karena hidupku tiba-tiba sempurna.
Tapi karena aku berhenti menuntut diriku untuk selalu sempurna.

Sekarang aku tidak lagi mengejar versi terbaik yang tidak ada habisnya.

Aku hanya ingin menjadi versi diriku yang lebih jujur, lebih lembut, dan lebih bisa menerima.

Dan untuk pertama kalinya…

itu sudah terasa cukup. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Mulai Mengerti Bahwa Aku Tidak Harus Mengerti Semuanya

Kenapa Malam Membuat Kita Lebih Emosional?

Kepalaku Terlalu Berisik Untuk Disebut Tenang