Aku Belajar Bahwa Tenang Itu Tidak Harus Sempurna

 

Aku Belajar Bahwa Tenang Itu Tidak Harus Sempurna

Aku dulu selalu berpikir kalau ketenangan itu berarti tidak ada masalah.

Tidak overthinking.
Tidak cemas.
Tidak ada pikiran yang berisik di kepala.

Aku membayangkan hidup yang benar-benar sunyi dari kekhawatiran.

Tapi semakin aku mencoba mengejar itu… semakin jauh rasanya.

Karena ternyata, pikiranku tidak pernah benar-benar berhenti.

Selalu ada sesuatu yang muncul.
Selalu ada hal kecil yang dipikirkan ulang.
Selalu ada rasa takut yang datang diam-diam.

Dan aku mulai merasa gagal bahkan dalam hal yang sederhana: menjadi tenang.

Sampai akhirnya aku sadar sesuatu yang pelan-pelan mengubah cara pandangku:

Mungkin tenang bukan berarti tidak ada pikiran sama sekali.

Mungkin tenang adalah ketika aku tidak lagi terseret oleh semua pikiran itu.

Aku mulai belajar untuk tidak bereaksi berlebihan pada setiap hal yang muncul di kepalaku.

Kalau ada pikiran buruk, aku tidak langsung percaya.
Kalau ada rasa cemas, aku tidak langsung panik.
Kalau ada overthinking, aku tidak selalu mengikutinya sampai jauh.

Aku mulai memberi jarak antara aku dan pikiranku.

Dan di jarak itu… aku mulai bisa bernapas sedikit lebih lega.

Aku juga mulai berhenti menuntut diriku untuk selalu stabil.

Karena ternyata tidak ada manusia yang benar-benar stabil setiap waktu.

Ada hari yang tenang.
Ada hari yang berantakan.
Dan keduanya tetap bagian dari hidup.

Sekarang aku mulai memahami bahwa ketenangan itu bukan tujuan akhir.

Tapi sesuatu yang datang dan pergi, dan tidak apa-apa kalau tidak selalu ada.

Aku tidak harus sempurna dalam menenangkan diri.

Aku hanya perlu tetap kembali setiap kali aku tersesat di dalam pikiranku sendiri.

Dan mungkin itu sudah cukup untuk disebut “tenang” versi aku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Mulai Mengerti Bahwa Aku Tidak Harus Mengerti Semuanya

Kenapa Malam Membuat Kita Lebih Emosional?

Kepalaku Terlalu Berisik Untuk Disebut Tenang