Aku Terlalu Sering Berbicara Dengan Isi Kepalaku Sendiri
Aku Terlalu Sering Berbicara Dengan Isi Kepalaku Sendiri
Aku mulai sadar kalau aku jarang benar-benar diam.
Bahkan saat aku sendirian, ada percakapan yang terus berjalan di dalam kepala.
Tentang hal yang sudah terjadi.
Tentang hal yang belum terjadi.
Tentang hal yang bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi.
Dan aku… selalu ada di sana, mendengarkan semuanya.
Aku terlalu sering berbicara dengan isi kepalaku sendiri.
Mengulang percakapan yang sama.
Menganalisis hal kecil yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan.
Membuat cerita dari sesuatu yang belum tentu memiliki makna apa-apa.
Dan tanpa sadar, aku hidup di dalam kepalaku lebih lama daripada di hidupku sendiri.
Kadang aku sadar itu tidak sehat.
Tapi tetap saja sulit berhenti.
Karena pikiranku selalu punya cara untuk kembali berbicara.
Saat aku mencoba fokus ke dunia nyata, dia menarikku kembali.
Saat aku mencoba tenang, dia menciptakan hal baru untuk dikhawatirkan.
Sampai aku merasa seperti tidak punya ruang untuk diam yang benar-benar sunyi.
Yang paling melelahkan adalah… aku melakukan ini sendirian.
Tidak ada orang lain di dalam kepala itu selain aku.
Dan kadang itu terasa sangat sepi, walaupun pikiranku sendiri sangat ramai.
Sampai akhirnya aku mulai bertanya pada diriku sendiri:
“Apakah semua ini benar-benar perlu dipikirkan?”
Dan jawaban yang sering muncul adalah… tidak.
Aku hanya terlalu terbiasa hidup di dalam pikiran sendiri.
Sekarang aku mulai belajar pelan-pelan untuk keluar sedikit.
Untuk kembali ke hal-hal nyata di sekitarku.
Ke suara, ke napas, ke momen yang sedang terjadi sekarang.
Aku tidak selalu berhasil.
Tapi setidaknya sekarang aku tahu…
aku tidak harus tinggal selamanya di dalam isi kepalaku sendiri.
Komentar
Posting Komentar