Aku Terlalu Sering Menciptakan Skenario Buruk
Aku Terlalu Sering Menciptakan Skenario Buruk
Aku nggak tahu sejak kapan pikiranku mulai terbiasa membayangkan hal buruk lebih dulu.
Sebelum sesuatu terjadi, aku sudah takut duluan.
Sebelum seseorang menjelaskan apa pun, aku sudah sibuk membuat kemungkinan paling menyakitkan di kepala.
Pesan yang dibalas singkat terasa seperti tanda berubah.
Nada bicara yang berbeda sedikit langsung membuatku overthinking semalaman.
Dan lucunya… semua itu sering terjadi tanpa alasan yang benar-benar jelas.
Aku terlalu sering menciptakan skenario buruk sendiri.
Seolah pikiranku selalu bersiap untuk hal paling menyakitkan yang mungkin terjadi.
Kadang aku sadar aku terlalu jauh berpikir.
Tapi semakin aku mencoba berhenti, semakin pikiranku berlari ke mana-mana.
Yang paling melelahkan bukan kenyataannya.
Tapi ketakutan yang terus hidup di kepala bahkan sebelum apa pun terjadi.
Aku hidup terlalu lama di “bagaimana kalau”.
“Bagaimana kalau semuanya berubah?” “Bagaimana kalau aku nggak cukup?” “Bagaimana kalau akhirnya aku ditinggalkan juga?”
Dan pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar sampai aku lupa bagaimana rasanya tenang.
Sampai suatu malam aku sadar sesuatu:
Mungkin pikiranku tidak sedang mencoba menyakitiku.
Mungkin dia cuma terlalu takut aku terluka lagi.
Jadi dia terus berjaga-jaga.
Terus membuat kemungkinan buruk.
Terus mencoba mempersiapkan rasa sakit sebelum rasa sakit itu benar-benar datang.
Padahal kenyataannya…
aku malah lelah duluan karena perang yang belum tentu terjadi.
Dan sejak itu aku mulai belajar pelan-pelan:
Tidak semua pikiran harus dipercaya.
Tidak semua skenario buruk akan jadi nyata.
Dan tidak semua rasa takut berarti ada bahaya sungguhan.
Kadang pikiranku cuma terlalu capek dan terlalu takut.
Jadi sekarang saat kepalaku mulai menciptakan cerita buruk lagi, aku mencoba berhenti sebentar dan bertanya:
“Apa ini benar-benar terjadi… atau cuma ketakutanku sendiri?”
Dan meskipun belum sepenuhnya tenang…
setidaknya sekarang aku tidak lagi tenggelam sejauh dulu di dalam pikiranku sendiri.
Komentar
Posting Komentar