Cara Berdamai Dengan Isi Kepala Sendiri

 

Cara Berdamai Dengan Isi Kepala Sendiri

Aku pernah berpikir kalau satu-satunya cara untuk tenang adalah menghilangkan semua pikiran.

Aku ingin kepalaku kosong.
Tidak ada overthinking.
Tidak ada ketakutan.
Tidak ada skenario buruk yang terus muncul.

Tapi semakin aku mencoba mengosongkan pikiran…
semakin keras semuanya terasa.

Dan di titik itu aku mulai sadar:

Mungkin masalahnya bukan di pikiranku.
Tapi cara aku memperlakukannya.

Aku terlalu sering melawan isi kepalaku sendiri.

Setiap pikiran dianggap musuh.
Setiap rasa takut dianggap kelemahan.
Setiap overthinking dianggap kegagalan.

Padahal mungkin… pikiranku cuma sedang berisik, bukan sedang menyerangku.

Sampai akhirnya aku mulai belajar sesuatu yang sederhana:

Aku tidak harus percaya semua yang ada di kepalaku.

Tidak semua pikiran adalah kebenaran.
Tidak semua ketakutan adalah tanda bahaya.
Dan tidak semua skenario buruk harus diikuti sampai akhir.

Aku mulai belajar untuk berhenti sebentar, bukan melawan.

Saat pikiranku terlalu ramai, aku tidak lagi memaksanya diam.

Aku hanya mengamatinya.

Seperti melihat awan lewat, tanpa harus ikut terbawa.

Dan anehnya… itu sedikit lebih menenangkan.

Aku juga mulai belajar berbicara ke diriku sendiri dengan lebih lembut.

“Oke, kamu lagi takut ya.” “Nggak apa-apa kalau kamu capek.” “Kita nggak harus menyelesaikan semuanya sekarang.”

Ternyata, cara kita berbicara ke diri sendiri sangat menentukan bagaimana kita bertahan.

Dan pelan-pelan aku sadar…

berdamai dengan isi kepala bukan berarti tidak ada pikiran lagi.

Tapi saat pikiran itu datang, aku tidak lagi memusuhi diriku sendiri karenanya.

Aku tidak lagi merasa rusak hanya karena pikiranku ramai.

Aku mulai belajar hidup berdampingan dengan isi kepalaku sendiri.

Dan itu… cukup untuk membuatku sedikit lebih tenang dari sebelumnya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Mulai Mengerti Bahwa Aku Tidak Harus Mengerti Semuanya

Kenapa Malam Membuat Kita Lebih Emosional?

Kepalaku Terlalu Berisik Untuk Disebut Tenang